Wakil Rakyat yang Bermanfaat bagi Masyarakat

Memulai karier politiknya dari pengurus di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak tahun 1999, hingga kini Tarmizi tetap berada dalam dunia yang membesarkannya. Bedanya, kini ia sudah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tangerang Selatan.

“Yang pertama karena suka, suka doang. Kemudian dari suka saya jadi pengurus,” tuturnya ketika ditemui di DPC PKB yang bertempat di Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan pada Selasa (10/1).

1484062436959

Tarmizi saat diwawancara di DPC PKB pada Selasa (10/1/2017).

Di ruang tamu DPC PKB yang dilengkapi empat sofa, Tarmizi bercerita mengenai latar belakangnya. Sebenarnya, ia merupakan guru agama yang mengajar di Sekolah Dasar Pelita Bangsa yang bertempat di Pamulang. Namun, ia melepaskan semua itu saat terjun ke dunia politik.

Tarmizi mengaku ia tertarik masuk ke PKB karena secara ideologis, partai tersebut sejalan dengan ideologi amaliah keseharian, ideologi yang baginya penting untuk dijunjung. Baginya, berada di PKB berarti menjaga warisan para kiai dan ulama yang mendirikan partai tersebut. Ia sempat vakum berkegiatan di PKB pada tahun 2004 dan kembali lagi menjadi pengurus tingkat kecamatan pada tahun 2009.

“Setelah jadi pengurus, PKB memberi peluang bagi para kadernya untuk ikut konstestasi di pemilu 2014, dan saya ikut, tentu dengan izin orang tua,” jelas lelaki berumur tiga puluh tujuh tahun ini.

Sejak tahun 1995, Tarmizi sudah aktif mengajar semenjak lulus dari madrasah dua tahun sebelumnya. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan perkuliahannya di beberapa perguruan tinggi seperti UNJ, STKIP, hingga lulus dari Sekolah Tinggi Agama Islam Fathahillah (STAIF) di Serpong.

Meski sekarang Tarmizi sudah lebih fokus ke dunia politik ketimbang pendidikan, ia tetap mengajar di majelis-majelis, meski terbilang non-formal.

“Sebenarnya jadi guru juga sudah mempunyai manfaat. Begitu juga jadi guru bisa mentransformasi pengetahuan kepada anak-anak kita, bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga attitude dan etika kita ajarkan, sekaligus pendidikan moral. Tetapi kalau ingin memiliki manfaat lebih bagi masyarakat banyak, ya, itu di tingkat kebijakan, karena anggota DPRD itu pembuat kebijakan bersama-sama dengan pemerintah. Kebijakan-kebijakan masyarakat baik pendidikan, kesehatan, maupun sosial, itu namanya kita punya manfaat lebih,” jelas anggota DPRD dari fraksi Madani ini.

Tarmizi juga mengaku bahwa meninggalkan kariernya di bidang pendidikan demi “menyeberang” ke dunia politik bukanlah keputusan yang mudah. Namun, setelah berdiskusi dengan sang istri, ia kemudian memutuskan bahwa ia ingin masuk ke dunia yang lebih luas dan memiliki banyak manfaat.

“Meskipun saya tahu, dunia politik itu juga ibarat hutan rimba lah. Tetapi dengan niat dan mengikuti aturan, InsyaAllah ada manfaat yang sejalan,” tambahnya.

Berbicara mengenai mengikuti aturan, salah satu “aturan” yang harus ditaati Tarmizi sebagai wakil rakyat adalah untuk mengumpulkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Laporan ini berisi harta bergerak dan tidak bergerak, surat-surat berharga, kas, dan setara kas, hutang, penghasilan pekerjaan, penghasilan usaha, hingga warisan. Dalam Pasal 5 di Undang-Undang No. 28 Tahun 1999, tertulis mengenai kewajiban setiap penyelenggara negara yang di antaranya adalah ketersediaan untuk diperiksa kekayaannya serta kewajiban untuk melaporkan dan mengumumkan kekayaan sebelum dan sesudah menjabat.

Tarmizi sendiri mengaku telah melaporkan LHKPN miliknya dalam bentuk pajak pendapatan dan pajak penghasilan.

“Saya bingung mau melaporkan apa?” tuturnya. “Kalau harta kekayaan, saya nggak bisa melaporkan, harta kekayaan saya nggak punya. Saya punya rumah hanya ukuran enam puluh meter persegi dan itupun hasil usaha saya sebelum jadi dewan. Tapi tetap saya laporkan,” lanjut Tarmizi.

1484402419373

Rumah Tarmizi yang terletak di Jl. Villa Pamulang Mas, Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan.

Memang rumah Tarmizi yang beralamat di Jl. Villa Pamulan Mas RT 02/02 di kawasan Bambu Apus, Pamulang, dapat dikatakan terlihat sederhana dan tidak mencolok. Ia juga tak terlihat memiliki kendaraan pribadi ataupun memakai atribusi partai secara berlebihan.

Baginya, LHKPN penting untuk dilaporkan sebagai cara untuk mengetahui harta dan menjadi bentuk standarisasi penghasilan para anggota dewan. Tarmizi kemudian berpendapat bahwa baginya tak penting jika ia melaporkan atau tidak, tapi ia tetap menaati Undang-Undang.

“Karena saya bukan pejabat negara, maka tidak wajib. DPRD itu bukan pejabat negara, tapi masih dalam pemerintahan daerah.”

Selain itu, di luar menjabat sebagai anggota DPRD, Tarmizi tidak memiliki usaha sampingan. Walaupun memiliki keinginan untuk membuka usaha, tetapi waktunya sudah cukup tersita dengan urusan PKB ataupun DPRD TangSel.

“Karena background saya itu pengajar, saya bukan pengusaha ataupun orang yang kelebihan uang,” ungkap sang mantan guru agama ini.

Sebagai anggota dewan, Tarmizi memiliki keprihatinan terhadap beberapa isu di Tangerang Selatan. Salah satunya adalah dari sisi sosial. Ia berpendapat bahwa TangSel kini sudah menjadi kota dan memiliki kerawanan sosial yang lebih tinggi, contohnya di kota masyarakatnya cenderung lebih pasif dan permisif. Baginya hal ini terbukti dari adanya beberapa teroris yang menetap di TangSel sebelum kemudian ditangkap, lalu adanya komplain pembuatan vaksin palsu, dan beberapa masalah narkoba yang ditemukan.

Karena itu, kebijakan pemerintah kota utamanya adalah membangun sumber daya manusia. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan, penambahan pengetahuan, baik dari sisi pengetahuan formal (ditingkatkan anggaran pendidikannya) maupun yang non-formal.

“Tingkat kemiskinan di TangSel juga sudah tinggi, kalau melihat BSD tidak ada orang miskinnya, tapi begitu ke sekitarnya kan. Nah, itu menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menaikkan taraf hidup yang masih tergolong miskin,” ujar Tarmizi.

Ketika ditanya mengenai apa yang telah ia dan DPRD perbuat untuk menanggulangi permasalahan yang menjadi keprihatinannya ini, ia mengatakan bahwa DPRD lebih ke pembuat kebijakan, sedangkan untuk pelaksana teknis merupakan pemerintah.

Hingga sekarang Tarmizi masih yakin akan terus melanjutkan kariernya di dunia politik. Menurutnya, politik itu sebenarnya bertujuan mulia dan dengan politik seseorang dapat memiliki kekuasaan yang bermanfaat.

“Karena mau tidak mau, suka tidak suka, apa yang kita nikmati sekarang ini seperti kehidupan yang aman dan nayaman yang ada di negara ini, ya, akibat dari proses-proses politik,” sebutnya.

Tarmizi kemudian menambahkan bahwa baginya dunia politik memiliki seni  memimpin, kita jadi tahu berbagai macam karakter manusia. Karena lain kepala, pasti lain pemikiran. Maka karena banyaknya orang menjadikan seseorang luas berpikir dan luas bersikap.

“Terutama lapang, harus lapang lah kalau di bidang politik. Karena ada hal-hal yang bisa menggores hati, ada yang bisa menyenangkan juga. Tapi, ya, dibuat enak aja lah. Harus yakin bahwa bepolitik itu ada manfaatnya,” tutupnya.

Ditulis oleh: Valerie E. Dante/14140110452

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s