Saprudin, Bendahara Fraksi Hanura

Pria berpeci hitam itu baru saja keluar dari mushola yang banyak didominasi keramik hijau yang berdiri kokoh diantara rumah warga. Ia berjalan menjauh dari musholah dan memasuki teras rumahnya.

Dindingnya di cat hijau, sedangkan kayu jendela dan pintunya berwarna putih. Pohon besar menjulang berdiri didepan rumahnya. Tak lupa beberapa pot juga berjajar didepan rumahnya.

Pria itu adalah Saprudin, bendahara dari fraksi Hanura sejak 2014 lalu. Penampilannya sederhana, hanya dengan peci, baju koko, dan sarung saat aku dan teman kelompok datang menghampirinya di rumah sang wakil rakyat itu.

Rumahnya pun sederhana. Di sana ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Tapi ternyata rumah yang sedang dibangun tepat dibelakang rumah yang sedang ia tempati, merupakan rumah keduanya.

“Iya, mau saya bobol rumah yang ini”

Ia menceritakan awal mulai masuk kedalam dunia politik. Hobi menjadi salah satu alasan kenapa ia mancoba masuk kedalam dunia politik.

“Gini, pertama kita hobi ya. Kalau masuk partai itu kita harus dilandasi dengan hobi. Hobi untuk bergaul, hobi berorganiasi. Kalau kita tidak punya hobi berorganisasi, kita masuk partai itu untuk mencari uang.”

Hobinya itu membawa pria lulusan Universitas Az-zahra ini sampai pada menjadi seorang bendahara fraksi Hanura. Selain menjadi seorang bendara fraksi Hanura, ia juga adalah seorang pengusaha di bidang penyaluran jasa. Usahanya itu dimulai jauh sebelum ia menjadi wakil rakyat. Perusahaannya itu bernama Rajawali Mitra Kandias.

“Ya punya usaha kecil-kecilan. Saya buka usaha penyaluran security”

Tepat didepan rumah yang ia tempati, terdapat garasi terbuka yang muat untuk dua mobil. Disana ada satu mobil innova putih, dan mobil ertiga berwarna ungu.

Saat disinggu masalah pendapatan, ia menceritakan darimana saja pendapatan yang ia dapatkan selama ini. Pendapatan yang ia dapatkan selama ini adalah gaji pokok sebesar Rp 5.600.000, tunjangan sebesar Rp 24.000.000 hingga Rp 25.000.000 (sudah termasuk semua tunjangan yang didapatkan oleh setiap anggota dprd), dan uang dinas yang tidak sempat disebutkan.

“Ya cukuplah. Kalau tunjangan pendidikan enggak banyak, paling Rp 250.000 untuk umur anak hingga 21 tahun. Trus ada tunjangan rumah, tunjangan komunikasi.”

IMG_3939.JPG

Garasi mobil rumah Saprudin

IMG_3940.JPG

Depan rumah Saprudin (JL KP. Babakan no 123 RT 02/09 Pondok Benda, Tangsel)

IMG_3936.JPG

Musholah keluarga Saprudin

Penulis: Kania Luthfiani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s