Muhammad Ali Yusup, Seorang Pedangan Handphone Ronsokan yang Menjadi Anggota DPRD

Tampak sebuah rumah tak bertingkat berwarna hijau tua yang dihiasi pohon rindang di terasnya, tidak terlihat mewah namun terasa asri. Banyak yang tidak menyangka bahwa rumah tersebut adalah kediaman dari bapak Ali Yusup yang merupakan anggota DPRD Tangerang Selatan.

Saya berteriak “assalamualikum” sebanyak tiga kali namun tidak ada respon dari dalam rumah, penasaran dengan keberadaanya saya ulangi kata itu sampai empat kali. Tak lama orang yang sudah saya tunggu keluar dari kediamannya dan menyapa saya sambil membukakan pagar. Dipersilahkanlah saya duduk di depan halaman rumah. Disela-sela perkenalan dengannya saya disuguhkan dengan secangkir kopi yang dibeli dari warung sebelah dan obrolan kami dimulai dengan seruputan pertama minuman berkafein.

Cukup menarik kehidupan pria kelahiran Jakarta 26 April 1970 tidak ada yang menyangka jika dirinya akan terpilih sebagai anggota komisi satu DPRD Kota Tangerang Selatan. Kehidupannya jauh sekali dari ingar bingar perebutan bangku politik, banyak yang heran bahwa salah satu anggota DPRD dari Partai Kebangkitan Bangsa ini dulunya ternyata adalah seorang penjual telepon genggam bekas.

Awalnya ia adalah seorang anak seorang pejabat yakni anggota DPR RI dari Partai Gokar pada tahun 1998 karena perceraian kedua orang tuanya yang membuat dirinya terpakasa untuk menjual hp rongsokan untuk membiayai hidupnya.

Beliau menceritakan bahwa awal dirinya berjualan hp bekas karena situasi broken home yang menimpa dirinya saat itu. Terpaksa ia harus berjualan handphone bekas karena sudah tidak ada lagi yang menafkahi dirinya lagi.

“Saya berpikir harus tetap hidup, waktu tahun sembilan enam saya ketemu hp tipe Nokia 1020 yang segede batu bata nahh itu saya beli ke Taman Puring di tukang rongsokan kemudian saya benerin dalemannya, waktu itu beli tiga ratus ribu rupiah lalu saya tawarin ke temen saya satu juta rupiah dan dibeli, nahh disitulah saya mulai”.

Banyak hal pahit yang menimpa dirinya setelah perceraian orang tuanya, dirinya terpaksa hidup di sebuah kontrakan yang hanya beralaskan tikar dan televisi dengan keadaan layar yang menyala setengah. Kesedihannya pun bertambah saat harus menyaksikan bapaknya tesorot kamera dalam sidang penutupan DPR RI.

“Disitu saya sedih ngeliatnya karena saya berpikir udah nggak ada yang ngurus saya lagi karena perbuatan saya ini udah mendustakan orang tua saya. Udah dikasih kepercayaan tapi saya buang-buang sampe bapak saya bilang kamu nanti bakal jadi gembel. Tapi saya nggak ambil pusing karena saya begini karena kondisi, kenapa saya kaya begini sedangkan orang lain mah normal punya bapak punya ibu.”

Pernah saat itu dirinya mengalami kejadain menarik saat datang ke sebuah masjid. Seperti biasa ia berpakaian safari dengan tas kecil yang dijinjing. Kala itu ia bertemu salah seorang camat yang bernama camat Agus dan ditanya lah dia, “pak dines dimana? yaudah saya jawab nggak dines pak saya tukang hp rongsok, yahh begitulahhh. Kagetlahh pak Agus, siapa nih orang pakaian dinas tapi tukang hp rongsokan”. Tuturnya sambil tertawa

Dengan motor supranya setiap hari Ali Yusup pergi untuk berkeliling berjualan hp bekas kepada orang-orang. Menawarkan telpon dengan berbagai spesifikasi selalu ia lakukan agar orang-orang memiliki keinginan untuk membeli barang yang ia tawarkan. Mulai dari sinilah Ali Yusup sering mendengarkan banyak keluhan warga dengan berbagai macam permasalahan yang ada di Kota Tangerang Selatan terutama tentang kurangnya kualitas dari layanan publik yang disediakan pemerintah daerah.

Walaupun kala itu dia hanya pedagang hp rongsokan dirinya tetap percaya bahwa suatu saat nanti ia akan menjadi seorang bejabat maka dari itu kemana pun ia pergi berjualan, pakain safari ala pejabat tidak pernah lupa dan selalu dikenakan pada setiap perjalanannya, “Cita-cita saya harus jadi pejabat, saya itu hobi berpolitik, karena background keluarga. Bapak saya anggota DPR RI Partai Golkar tahun 98.” Sahutnya.

Sampai pada tahun 2007 Pak Ali menikah lagi dengan istrinya yang ketiga ia mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi anggota DPRD nantinya, namun istrinya tidak yakin akan niatan sang suami tapi Ali Yusup tetap percaya diri bahwa tekad dan cita-cita yang telah diimpikan akan terlaksana nantinya.

“Pas nikah sama istri, saya cium tangan dia, saya bilang pengen jadi anggota DPRD sampe istri saya mengatakan dari mana lu punya duit. Lalu saya bilang duit nomer tujuh belas yang penting semangat, abis itu istri saya sambil rada-rada kesel gitu yah”. Ucapnya.

Sampai pada waktu yang dinanti ia terkejut ketika ditawari masuk jadi anggota Partai Kebangkitan Bangsa oleh istrinya. Dirinya tidak menyangka ternyata istrinya telah menjadi sekertaris dewan ranting. Awalnya dirinya menolak untuk bergabung dengan PKB karena beliau telah tergabung dalam ormas Nasional Demokrat yang saat itu sedang mengumpulkan massa agar bisa menjadi sebuah Partai. Setelah mempertimbangkan akhirnya dirinya menerima tawarann tersebut.

Disitulah awal perjalanan berpolitik Ali Yusup dimulai. Seorang pedagan hp rongsokan yang ingin menjadi pejabat negara.

Setelah bergabung dengan PKB dirinya menjadi dewan ranting. Saat masuk dalam partai dirinya bertemu oleh seketertaris wilayah provinsi yakni bapak Ahmad Fauzi, dengan dia Ali Yusup banyak belajar mengenai berpolitik karena memang ia tidak tahu bagaimana dan seperti apa politik.

Tidak hanya dengan bapak Ahmad Fauzi. Ia juga banyak belajar berpolitik dengan salah satu tokoh partai Golkar yaitu bapak Yusup Abdurohman yang pernah menjadi kepala lurah dua periode dan menjadi anggota DPRD Kabupaten, selain itu Ali Yusup juga berguru dengan Bapak H. Endang yang saat itu menjabat sebagi ketua DPRD Kabupaten.

Ia mengatakan bahwa tak pernah menyangka bawah dirinya akan menjadi anggota DPRD RI seperti saat ini. Beruntung saja Ali Yusup memliki seorang istri yang setia berjuang serta didorong oleh semangat berpolitiknya dan juga anak-anaknya yang selalu mendoakan. Akhirnya cita-cita menjadi pejabat menjadi terwujud.

“Sekarang kalo dipikir secara nalar saya berpikir tidak akan pernah jadi. Sungguh berat banget bang lima ratus dua puluh enam suara bang kemudian lawan saya jagoan semua bang orang-orang hebat semua, kalo saya apalah artinya yah karena semangat sama dan dibantu sama istri akhirnyalah bisa masuk PKB jadi dewan ketua ranting”.

Pernah sesekali terlintas benak untuk males akan berpolitik karena terkadang politk tidak sesuai dengan hati nurani. Hal yang paling membuatnya tidak sesuai adalah ketika seseorang menjabat banyak yang mengagungkan bahkan sampai berebut selfie tapi ketika tidak menjabat orang-orang tidak ada yang memandangnya lagi.

“Begitu mereka hebat pada berebut tapi giliran udah jatoh ditanyain aja nggak bahkan disalamin belaga bego giliran lagi jadi diciumin kakinya. Makanya dibilang politik itu kejam”. Ujarnya dengan nada geram.

Jalan untuk menjadi pejabat tentunya tidak semulus yang dipikirkannya. Berbagai benturan banyak ditemuinya saat itu, terutama ketika akan bersosialisasi kepada warga. Untuk bisa mensosialisasikan programnya ke warga dirinya terpaksa harus pinjam uang ke beberapa pihak untuk mendanai kampanyenya. Sampai ada temannya yang bilang dirinya caleg dhuafa karena pergi kampanye dengan motor Honda Supra.

Berbeda dengan anggota DPRD lainnya yang menjadikan jabatan sebagai ladang untuk membuka lubang usaha, namun Ali Yusup tidak ingin seperti itu. Dirinya tidak menjalankan ataupun mengembangkan usaha apapun saat menjabat sebagai komisi satu DPRD Tangerang Selatan. Sampai beberapa temannya mengatakn bahwa dirinya dewan cupu.

“Orang bilang saya dewan culun sampe bilang udah dua tahun jadi pejabat rumah masih gini-gini aja saya bilang kalo bisa sampe mentri rumah saya masih begini. Makanya saya bilang saya bukan okb (orang kaya baru) dan saya bukan tipe korupsi saya lebih menghargai lambang saya walaupun saya nggak punya duit”.

Beliau juga mengeluhkan bahwa saat ini kegiatan partai banyak sekali sehingga membuat pejabat lebih sibuk dengan kegiatan partai dibandingkan kegiatan kenegaraannya. Ia menjelaskan hal ini sungguh bebeda saat jaman Soeharto ketika bapaknnya masih menjabat sebagai Anggota DPR RI. Mereka lebih sering bersafari dibandingkan berkemeja partai namun sekarang kondisinya terbalik.

“Ya sekarang itu bukan wakil rakyat tapi wakil partai”. Tegasnya.

Saat ini beliau beserta rekan-rekan kerjanya di komisi satu DPRD Tangerang Selata sedang menggodok perda mengenai LKK (lembaga Kemasyarakatan Kelurahan), ia menjelaskan program ini baru saja diketok palu oleh pansus dan segera akan diparipurnakan. Perda ini berisikan tentang pemberian wewenang secara sosiologis dan philosophis sehingga wewenangnya dapat mengatur kinerja RT dan RW.

Selain merancang dan mengesahkan perda para anggota juga melakukan kunjungan-kunjungan ke kantor dinas. Sesekali mereka melakukan pinyidakan apabila memang sudah rawan dan itu juga harus ada surat rekomendasi dari ketua dewan. Pada program penyidakan dirinya pernah menjalani sekali tugas tersebut yakni mengenai peredaran minuman keras yang ada di supermarket.

Dalam perjalanannya selama tiga tahun menjadi pejabat beliau selalu menaati prosudur-peosedur kenegaraan salah satunya mengenai LHKPN ( Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara). Setiap tahun ia selalu menyerahkan laporan tersebut ke sekertaris dewan. Laporan ini meliputi gaji pokok sebesar Rp. 2.000.000 serta tunjangan-tunjangan yang benilai hingga Rp. 24.000.000 dan juga harta bergerak dan harta tidak bergerak.

“Kalo pokok Rp. 2.000.000 kalo sama tunjangan seperti tunjangan perumahan yaa Rp. 24.000.000 lahh, yang terbesar tunjangan rumah itu 14.000.000”. Tuturnya.

Ia selalu melaporkan LHKPN secara realistis tanpa adanya fiktif karena baginya

anggota DPRD kepercayaan masyarakat adalah modal terpenting untuk tetap mendapatkan kursi. Masyarakat akan tetap memilih dirinya ketika secara konsisten mampu memberikan kontribusinya untuk para warganya. Warga sangat mengaharapkan kebijakan yang disahkan merupakan keputusan yang memang berasal dari keluhan-keluhan masyarakat. Diharpakan kebijakan yang dirancang merupakan solusi dari problem rakyat.

 

 

Penulis : Gustama Pandu P

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s